SERULING SUNYI

Oleh : Nurul Light

Di dini kehadiran, covid menari-nari di altar udara,
Menyambangi permadani-permadani alam raya
Merasuk pada daun-daun penghirup hawa,
Setelah terus bermetamorfosa,
Hadirnya membuat riuh gemuruh,
Aroma kekhawatiran diiringi nada-nada kematian
Badai keangkuhan mempermainkan hati dan logika
Seseorang mungkin bisa lari dari pemburuannya, tapi yang lain dihantam dengan serbuan seribu.

Mati dan rezeki menjadi pertentangan,
Mencari ataukah berdiam diri?
Mati kelaparan atau menggelapar ditebas virus berkeliaran?
Ditemui izrail dengan sunyi serulingnya
Yang meringkih memekak di telinga,
Tertancap hingga ke rongga,
Bunyinya mencerabut atma dari daksa.

Lalu Tuhan menjadi begitu dekat dalam keyakinan, tapi Ia juga terlalu jauh dalam langkah.

Tetiba saja sunyi bernyanyi,
Menyenandungkan kidung pelepas dahaga
Kita digiring ke dalam sepi yang paling sendiri
Duduk menginsyafi elegi

Hingar bingar pasar ditutupi
Tempat-tempat ibadah digemboki
Gedung gedung untuk mengais rezeki dibentengi
Kendaraan-kendaraan dikembalikan ke garasi.

Sebab seluruh pintu tak nampak di mata,
Maka kunci pembukanyapun tak sekedar tergantung di dunia,
Ia juga terselip di dalam jiwa,
Memanggil-manggil untuk hidup kembali,
Dan kembali pada hidup.

Di manakah tempat covid kembali?
Gejala alam yang esok lusa akan kembali ke harmoni?
Atau segelintir pikiran yang mesti kita perangi?

Biarlah covid kita hantar pulang ke tempatnya kembali,
Dan covid mengantar kita pada asal mula kejadian kita.

NuruLight
Dicatat di Jalan do’a dan ikhtiar.
Sukaresik, 29032020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *