Tertatih dimakan Penyesalan

Karya : Risma Nadhitul Izmah

Aku sadar kala kesedihan bertamu dihatiku,
Perih itu terasa, naik ke pelupuk mata, dan bersiap dimuntahkan dalam tangis.
Layaknya peristiwa terbentuknya hujan,
Begitu perih, sampai airmata itu tak muncul, tertahan menggenang.
Menyadari tentang perpisahan, mendewasakan hati, awal tegukan yang manis, tengah kenikmatan yang puitis, hingga berakhir pada pahitnya ampas berujung miris.
Semakin aku mengingatmu Bu, semakin aku paham tentang garis Tuhan untukku,
Aku hanya sedang membuka kembali memori yang mengalun dan terhentak akan kenangan menahun. Antara wabah dan kepergian,
Tanpa raga, ia bergentayangan menuju pagi, menasbihkan lara, memanggil namamu dengan begitu parau,
Serak dan begitu basah,
Hujan mengawetkan luka diantara kehilangannya, terlepas duka atau bahagia, lebih dari sekadar fungsi otak yang bekerja.
Ingatan adalah sebuah gerbang,
Seperti itu, beginilah aku,
Menertawai wabah bedebah,
Menangisi yang telah berlalu,
Untuk apa lagi hidup jika hanya digunakan untuk mengenang?
Nyatanya, sekarang hidup tak semenyenangkan waktu itu.
Senja tak pernah salah,
Hanya saja kenangan yang kadang membuatnya basah.
Kini, biar waktu yang menikam kerinduan.
Biar akhir menemui lega, istirahatlah Bu..
Seisi ruangan menjadi saksi betapa tawa adalah bunga kesedihan.


Aku menghitung denting gelas
Yang mengiringi perjalanan pulangmu
Gerimis paling sendu menemani hari senin terakhirmu
Waktupun mengurai tetes hujan menjadi bulir-bulir kenangan
Mencoba ikhlas, walau airmata pasti mengucur deras
Aku tengah mengaduk sesak sembari mengiris senja di pelataran logika
Mencari jejak terakhirmu di serpihan tawa
Memungut sisa senyummu yang dulu biasa kini tiada
Kini, adamu hanya bisa tergambar oleh mimpi dan lamunan
Ditengah wabah yang membuat semua orang resah.


Aku bersyukur karena bisa menemani di sela terakhirmu.


Padamu kepergian, inilah sepenggal rasa di bebunyian sangkakala,
Langit mementahkan gemuruh,
Ketiadaanmu membuatku semakin rapuh,
Langkah pun melupa pijakan,
Harapku tertatih dimakan penyesalan,
Pada akhirnya perjalanan adalah tentang mencari tempat berpulang.


Selamanya, aku akan mengenangmu dalam bait-bait udara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *