Mukaddimah

Karya : Light

Syair ini aku tulis dari lirihan hati yang paling sunyi,

Daridiam yang terlalu gemuruh, sebab betapa luka terus membalut mata.

Dentuman puisi-puisi perang panjang dari seluruh penjuru yang tak henti berteriak

Tentang cita-cita yang dinodai
Tentang kepercayaan yang dikhianati
Tentang kemanusiaan yang dimanipulasi
Tentang harapan yang terus tumbuh
Tentang do’a yang tak lelah untuk hidup.
Tentang gerak yang tak henti walau harus merangkak.

Syair ini terangkai dari kumpulan nafas-nafas jalanan
Menyatu dengan polusi pikiran di gedung-gedung kehormatan
Bertemu dengan bocah-bocah yang mengais rezeki di kolong trotoar
Disapa wajah keriput yang terlelap di emperan
Suara dari tenggorokan yang terus meneriakkan kebangkitan.

Tentang demokrasi yang begitu asik menyelimuti oligarki
Tentang kapitalism yang mematikan sendi
Tentang perang salib yang tak menuai kata henti
Tentang anak-anak muslim yang terus diintimidasi
Tentang mayat-mayat muslim yang dipaksa dikremasi
Tentang tangisan dari tenggorokan di kolong jembatan
Teriakan dari ujung Indonesia, Srilanka, Rohingnya, Tiongkok, Austria, Nigeria, Suriah, Gaza, perempuan-perempuan yang terintimidasi di dalam camp pekerjaan,
Terlecehkan di dalam sel kenistaan.

Syair ini adalah bisu yang paling riuh.
Memohon setiap do’a yang luruh,
Memburu setiap langkah yang teguh.

Bukan karena merasa yang paling mengerti,
Bukan pula untuk yang merasa paling suci,
Bukan untuk yang paling eksistensi atau yang paling tersembunyi.

Syair ini adalah mukaddimah,
Salam untuk yang menghirup udara di tahun Dua Ribu Dua Puluh Satu,


Untuk yang selalu berlari menuju abadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *