Kisah Keluarga Nabi Ishaq untuk Pemuda Hari Ini

Ahad pagi bagi saya seperti rutinitas biasa, mengikuti salah satu kajian di dekat domisili saya. Materi kajian pada ahad pagi kali ini membahas mengenai Sirah Nabawiyah, khususnya kisah mengenai Nabi Ishaq dan anak kembarnya yaitu Nabi Yakub dan Al-Aish. Materi kajian pagi ini cukup menarik bagi saya. Manarik karena di balik kisahnya terdapat pelajaran yang relevan dengan keadaan generasi saat ini.

Penggalan kisahnya saya ambil ketika Nabi Ishaq sudah cukup berumur dan pengelihatan beliau sudah berkurang. Ketika itu Nabi Ishaq meminta anak kesayangannya, Al-Aish untuk berburu dan menghidangkan hasil buruannya untuk Nabi Ishaq. Perlu digaris bawahi bahwa Nabi Ishaq lebih menyayangi Al-Aish karena memiliki hobi yang sama yaitu berburu. Adapun Nabi Yakub lebih gemar membantu ibunya dan memiliki perangai yang lebih lembut sehingga menjadi anak kesayangi ibunya, Ribka.

Ribka yang mendengar permintaan Nabi Ishaq kepada Al-Aish kemudian menyiapkan hidangan dari hewan dan meminta Nabi Yakub untuk menyerahkannya pada Nabi Ishaq dengan tujuan agar Nabi Yakub mendapat do’a kebaikan dari Nabi Ishaq. Ribka juga mendandani Nabi Yakub layaknya Al-Aish agar Nabi Ishaq tidak curiga dengan Nabi Yakub yang mengantarkan masakannya. Ketika mengantarkan masakan yang diminta Nabi Ishaq sempat berpikir karena suaranya menurutnya adalah Nabi Yakub, tetapi ciri fisiknya seperti Al-Aish. Tetapi hal tersebut tidak menjadi kecurigaan bagi Nabi Ishaq yang kemudian mendo’akan keberkahan dan kebaikan dalam hidup Nabi Yakub yang menyamar menjadi Al-Aish. Al-Aish yang datang dari berburu kemudian menyerahkan masakan dari hasil berburunya kemudian marah karena merasa didahului oleh saudaranya sendiri. Kisah tersebut saya cukupkan sampai pada peristiwa mengenai Ishaq yang mendo’akan Nabi Yakub dan kemarahan Al-Aish. Bagi yang masih penasaran dengan kisah lengkapnya silakan dapat membaca pada sumber-sumber yang kredibel.

Berdasarkan sepenggal kisah dari keluarga Nabi Ishaq tersebut terdapat beberapa pembelajaran yang dapat kita ambil. Pertama berkaitan dengan ilmu parenting di mana sebagai orang tua sebaiknya tidak membandingkan anak-anaknya. Adapun relevansi dengan keadaan hari ini berkaitan dengan cara anak-anak memandang orang tuanya khususnya di masa senjanya. Al-Aish dan Nabi Yakub berlomba untuk mendapatkan do’a dan Nabi Ishaq yang merupakan Ayahnya. Bagi Al-Aish dan Nabi Yakub do’a dari ayahnya adalah sesuatu yang berharga dan dapat berdampak pada kehidupannya di masa depan. Oleh sebab itu, Al-Aish yang didahului oleh Nabi Yakub sehingga Nabi Yakub yang mendapat do’a dari Nabi Ishaq membuatnya murka hingga berniat untuk membunuh Nabi Yakub saat Nabi Ishaq sudah meninggal.

Bertolak belakang dengan pandangan generasi nabawiyah yang mengutamakan do’a atau rida (ridho) dari orang tua sebagai hal yang utama dari hidupnya. Sebagian besar dari generasi modern memandang orang tuanya sebagai pemilik aset yang nantinya akan menjadi hak miliknya dalam bentuk warisan ataupun privilese. Cara pandang inilah yang kemudian membuat banyak peristiwa retaknya persaudaraan. Oleh sebab itu, meskipin zaman terus berubah dan berkembang, paradigma kita memandang orang tua sebaiknya tetap berpegang pada paradigma nabawiyah. Paradigma yang memandang orang tua sebagai sumber keberhasilan dari do’a yang ia lantunkan dan rida yang yang ia berikan.