Urgensi Kepenulisan Ilmiah di Era Otomatisasi dan Generasi Teks

Menulis ilmiah merupakan aktivitas yang tidak dapat dilepaskan dari aktivitas akademik, sebagai pengajar maupun pembelajar. Menulis ilmiah sebagai wujud proses menempa pemikiran kritis dari seorang akademisi. Bentuk-bentuk tulisan ilmiah yang ada di perguruan tinggi juga beragam bentuknya. Mulai dari tulisan berbentuk makalah yang lazim ditulis dalam suatu mata kuliah, proposal penelitian atau kegiatan hingga tulisan ilmiah berbentuk laporan penelitian sebagai syarat untuk mendapat gelar akademik.

Kemajuan zaman membuat kebijakan terkait kepenulisan ilmiah sebagai syarat untuk mendapat gelar akademik ikut berubah. Kemendikbudristek melalui Permendikbudristek nomor 53 tahun 2023 memberikan kebebasan bagi perguruan tinggi untuk menentukan mekanisme tugas akhir bagi mahasiswa tingkat akhir. Sehingga skripsi tidak lagi menjadi kewajiban bagi mahasiswa untuk mendapatkan gelar sarjana atau sederajat.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya membuat perubahan dari pemangku kebijakan, tetapi juga adanya perubahan dalam pola penyusunan tulisan dari insan akademis. Jika dahulu insan akademis menyusun teks ilmiah dengan mandiri dan ditambahkan referensi dari sumber yang kredibel, kini menyusun teks ilmiah dipermudah dengan adanya artificial intelegent (AI).

Beberapa waktu yang lalu muncul sebuah produk AI yang mampu menggenerasi atau menyusun teks secara otomatis. Pengguna hanya perlu memasukan topik atau perintah untuk menulis teks yang diinginkan, setelah itu teks yang diinginkan akan digenerasi secara otomatis dengan program AI. Penggunaan produk AI di dunia akademik khususnya di Indonesia belum sepenuhnya diterima. Terdapat dua kubu yaitu pro dan kontra di dalam penggunaannya di dunia akademik. Berdasarkan dua fenomena tersebut masihkah penting bagi kita untuk mempelajari atau melatih diri untuk dapat menulis teks ilmiah secara mandiri? Tulis jawaban kalian di kolom komentar ya.